Semoga Allah menganugerahkan kita kesholehan Ibrahim dan keikhlasan Ismail. Selamat Hari Raya #Iduladha1443H Semoga saudara/saudari kita yg telah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, Mekkah, menjadi/mendapatkan haji mabrur. Aamiin.. Salam.. 💚🇲🇨 #BhinekaTunggalIka"
SetiapKita Adalah IBRAHIM . Setiap kita adalah "IBRAHIM", dan setiap Ibrahim pasti punya "ISMAIL". Ismailmu mungkin hartamu Ismailmu mungkin
YangKedua seperti yang dijelaskan para ulama' dengan melakukan penyembelihan qurban diharapkan mampu menghilangkan sifat-sifat bahimiyah (kebinatangan) yang ada dalam tubuh kita. Tauiyyatu al-Ijtimaiyyah ( توعية الاجتماعية ) ( kesadaran diri untuk berjiwa sosial) sebenarnya setiap ibadah tidak sekedar memiliki makna ritual
Berikutinilah penjelasan asal usul mengapa kita menyebut nabi Ibrahim dalam tahiyat akhir di setiap shalat kita sehari-hari. Semoga menjadi ilmu bagi kita semua. Setelah Allah menciptakan manusia pertama yaitu Adam AS, kalimat pertama yang dilihat oleh Nabi Adam adalah kalimat syahadat yang berbunyi, لا إله إلا الله محمد
السَّلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Sejenak Pagi SETIAP KITA ADALAH IBRAHIM Alhamdulillah kita masuk di Idul Adha, kebayang penyembelihan hewan qurban, berbagi, bakar satenya dll. Setiap kita berpeluang untuk menjadi "IBRAHIM" dimana setiap Ibrahim punya 'ISMAIL' karena
Beradadi negara yang aman dan makmur merupakan harapan setiap rakyat. Dengan negara yang aman, kita tidak usah khawatir adanya perpecahan atau peperangan, kita bisa membesarkan anak-anak dengan tenang dan pendidikan terbaik. Berikut adalah bacaan doa Nabi Ibrahim AS.
. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Semangat Subuh Setiap kita adalah IBRAHIM dan setiap Ibrahim punya ISMAIL… Ismailmu mungkin HARTAMU’,Ismailmu mungkin JABATANMU’,Ismailmu mungkin GELARMU’,Ismailmu mungkin EGOMU’,Ismailmu adalah sesuatu yg kau SAYANGI’ dan kau PERTAHANKAN’ di dunia ini…. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa KEPEMILIKAN’ terhadap Ismail. Karena hakekatnya semua adalah milik Allah…Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugrahkan KESHALIHAN Nabi Ibrahim dan KEIKHLASAN Nabi Ismail kepada kita semua, agar kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan kita… Jangan rendahkan dan hinakan dirimu dengan harta, jabatan dan gelarmu. Yang sudah dipermudah oleh Allah jangan lagi kau buat lalai dr kemudahan di hadapan Allah hanya ketaqwaan kita yg diterimaNya. Selamat menunaikan ibadah shalat subuh semoga Allah menerima amal ibadah kita Aamiin
November 11, 2015 oleh happy4kids بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم ِSETIAP KITA ADALAH IBRAHIM *Setiap kita adalah IBRAHIM’ dan setiap Ibrahim punya ISMAIL’….. Ismailmu mungkin HARTAMU’, Ismailmu mungkin JABATANMU’, Ismailmu mungkin GELARMU’, Ismailmu mungkin EGOMU’, Ismailmu adalah sesuatu yg kau SAYANGI’ dan kau PERTAHANKAN’ di dunia ini…. Ibrahim tdk diperintah Allah utk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa KEPEMILIKAN’ terhadap Ismail. karena hakekatnya semua adalah milik Allah… Smg Allah SWT anugrahkan KESHOLEHAN Nabi Ibrahim dan KEIKHLASAN Nabi Ismail kepada kita semua, agar kita bisa mengaplikasikan dlm kehidupan kita… Aamiin… Jgn rendahkan dan hinakan org lain dgn harta, jabatan dan gelarmu karena di hadapan Allah hanya ketaqwaan kita yg diterimaNya… Ditulis dalam islam Dengan kaitkata islam Tinggalkan sebuah Komentar
Setiap Kita Adalah Ibrahim’ dan setiap Ibrahim punya Ismail’….. Ismailmu mungkin hartamu’, Ismailmu mungkin jabatanmu’, Ismailmu mungkin gelarmu’, Ismailmu mungkin egomu’, Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi’ dan kau pertahankan’ di dunia ini…. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa kepemilikan’ terhadap Ismail. Karena hakikatnya semua adalah milik Allah… Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugrahkan keshalihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail kepada kita semua, agar kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan kita…, Jangan rendahkan dan hinakan orang lain dengan harta, jabatan dan gelarmu… Karena di hadapan Allah hanya ketaqwaan kita yang diterimaNya
Setiap kita adalah Ibrahim. Dan setiap Ibrahim pasti punya Ismail. Ismail itu mungkin hartamu.. Ismail itu mungkin gelarmu.. Ismail itu mungkin egomu.. Ismail itu adalah sesuatu yang kamu sayangi dan pertahankan di dunia ini.. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, tapi Ibrahim hanya diminta untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail. Karena hakikatnya semuanya adalah kepunyaan Allah. Semoga Allah karuniakan kesholihan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail kepada kita semua. ©SPN
Secara metaforis, setiap di antara kita sejatinya adalah “Ibrahim”. Sebagaimana akar historis, Nabi Ibrahim memiliki Ismail. Maka, Ismail kita bisa jadi adalah ego kita sendiri. Bahkan, Ismail kita bisa jadi harta-kekayaan kita Ismail kita pada hakikatnya merupakan sesuatu yang kita sayangi. Dia adalah “pertimbangan” yang begitu berat untuk direlakan. Seperti halnya harta kekayaan yang “terkadang” selalu kita pertahankan. Pun, Ismail kita bisa jadi, sesuatu yang dianggap benar menurut ego kita sendiri. Keduanya adalah Ismail kita yang sangat-sangat sulit untuk direlakan. Tetapi kita perlu membangun semacam keikhlasan untuk sangat penting saya kira untuk bisa melakukan semacam penghayatan peran. Sebagaimana pentingnya menyelami keputusan-keputusan “sulit” yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk bisa menyembelih anak-nya yang sangat secara watak dan tindakan kita juga perlu menjadi “Ibrahim” yang bisa melucuti segala hasrat kepemilikan terhadap Ismail. Sebagaimana Ismail kita adalah harta-kekayaan dan egoisme diri yang sangat begitu sulit untuk kita korbankan. Maka, dengan kesadaran untuk mengambil peran secara metaforis inilah, kita perlu menjadi Ibrahim yang bisa mengorbankan Ismail kita sendiri secara dari sinilah sebetulnya refleksi Idul Adha dalam hal berkurban kita benar-benar bisa menggapai esensi nilai di dalam-nya. Melebur sebagai cahaya kesadaran yang bisa memprogram watak dan tindakan kita. Sehingga, bisa mengubah cara berpikir mau-pun perilaku kita yang kadang selalu condong egois. Serta, membuat kita “langgeng” untuk selalu ringan mengorbankan harta-kekayaan kita kepada orang-orang yang sangat Idul Adha tidak hanya sekadar perayaan spiritualitas tanpa makna subtansial. Karena, kisah Nabi Ibrahim dengan anak-nya yang bernama Ismail ini bukan hanya sekadar cerita-cerita romans atau drama-drama yang penuh kesedihan dan keharuan di perihal pelajaran tentang hidup. Sebuah gambaran tentang keadaan diri kita yang nisbi. Tentu, kisah demikian adalah cara kita mengasah dan memperbaiki diri kita. Sebagaimana kebiasaan kita yang masih selalu dan bahkan sering mempertahankan ego dan rasa “eman” terhadap harta-kekayaan karenanya, kita perlu mendapatkan pelajaran dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim yang begitu rela untuk menyembelih anak-nya. Dengan mengambil peran yang telah dilakukan oleh beliau sebagai basis teladan.Sebagaimana secara metaforis, kita adalah Ibrahim. Tentu, Ibrahim memiliki Ismail. Maka, Ismail kita adalah ego dan harta kekayaan kita. Dari sinilah kita perlu menyelami dan meresapi bagaimana kekuatan mental berpikir yang matang dari Nabi Ibrahim untuk bisa tabah dan sabar di dalam mengorbankan anaknya yang sangat skenario Tuhan, sejatinya hanya ingin “menguji” menguji Nabi Ibrahim akan ketulusan, keikhlasan dan kesadaran untuk melepaskan rasa kepemilikannya untuk bisa kembali ke dalam relevansi kita sebagai Ibrahim dalam kehidupan saat ini adalah mencoba untuk mengikhlaskan Ismail kita. Yaitu ego dan rasa sayang terhadap harta-kekayaan. Untuk segera dikorbankan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Karena dengan cara seperti ini, yaitu membangun semacam penghayatan kisah dengan mengambil peran secara metaforis, niscaya kita akan jauh lebih tulus. Di dalam mengorbankan egoisme dan rasa “eman” terhadap harta kekayaan yang kita dengan kita bisa mengorbankan Ismail kita berupa egoisme, niscaya ini akan menjadi semacam “perbaikan” bagi kita. Agar, kita tidak mudah menyalahkan, menolak pendapat orang lain tidak egois. Serta tidak mudah menang-nya sendiri. Artinya, ketika egoisme diri telah kita korbankan, kita akan lebih mementingkan cara berpikir yang kolektif, terbuka dan selalu tolerant terhadap yang lain. Begitu juga ketika kita bisa mengorbankan Ismail kita. Berupa harta-kekayaan yang sangat disayanginya. Oleh karena itu, kita perlu mengorbankan Ismail kita yaitu egoisme dan kekikiran terhadap harta-kekayaan. Agar, Idul Adha yang kita jalani mampu menjadi jembatan terbangunnya kemaslahatan bersama di negeri ini.
Di hari besar ini kita menginsyafi, “Setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap Ibrahim memiliki Ismail yang sangat disayangi.” Kemudian, boleh juga kah dikatakan bahwa Setiap kita pun sebetulnya adalah Nuh, dan setiap Nuh memiliki tugas menyeru sambil membuat bahtera. Setiap kita adalah Ismail. dan setiap Ismail menyerahkan lehernya untuk Tuhannya. Setiap kita adalah Yusuf, dan setiap Yusuf akan dirayu Zulaikha Setiap kita adalah Musa, dan setiap Musa melawan Firaun serta menyelamatkan kaumnya Setiap kita adalah Isa, dan setiap Isa menyembuhkan penyakit atas izin-Nya Maka, apakah setiap kita pun adalah Muhammad? Mengingat, setiap Muhammad adalah rahmat bagi semesta. Post navigation
setiap kita adalah ibrahim