Singkat kata, upacara Rambu Solo untuk mengusir kemalangan. Kepercayaan ini diyakini karena bagi masyarakat Toraja, orang yang meninggal hanya dianggap sebagai orang sakit, oleh karena itu tetap harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan memberikan makanan, minuman, rokok, pinang, atau berbagai sesaji lainnya.
Foto: sulawesi-experiences.com. Meski namanya Rambu Solo, ini merupakan upacara adat yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Rambu Solo adalah upacara kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang meninggal ke alam ruh. Upacara adat ini telah menjadi hiburan wisatawan selama bertahun-tahun.
Salah satu tradisi yang menjadi daya tarik wisatawan saat berkunjung ke Toraja adalah tradisi adu kerbau atau Tedong Silaga. Tradisi ini bagian dari prosesi upacara adat kedukaan atau Rambu Solo. Biasanya, Silaga Tedong dilakukan di lapangan luas atau arena yang dibuat oleh keluarga yang sedang menyelenggarakan Rambu Solo.
Sejarah Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara pemakaman adat yang mengharuskan keluarga almarhum mengadakan pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang telah meninggal. Upacara adat Rambu Solo ini sudah dimulai kira-kira pada abad ke-9 dan dilaksanakan turun-temurun sampai saat ini. Secara harafiah, dalam bahasa Toraja arti kata
The more buffalo slaughtered, the faster the spirit will reach Puya. Rambu Solo Tana Toraja funeral ceremonies usually last for days around 2-3 days and begin during the day. For the nobility, usually this ceremony lasts almost 2 weeks. Other activities in this ceremony besides cutting buffalo are preparing graves for the bodies to be buried.
Keluarga duka mengarak jenazah saat prosesi penguburuan pada upacara pemakaman adat Toraja atau Rambu Solo Toraja di Sangalla, Tana Toraja, Sulawasi Selatan, Jumat (25/2/2022). ADVERTISEMENT Prosesi penguburan tersebut dilakukan untuk mengantar jenazah ke liang kubur dan merupakan rangkaian terakhir Rambu Solo Toraja.
.
lirik lagu kedukaan toraja rambu solo